SOUL LEFT BEHIND
Kadang
Nadine merasa tuhan tak adil kepadanya. Karena tuhan telah mengambil orang yang
Nadine sayangi yaitu ibunya sendiri .
Ibunya meninggal akibat kecelakaan dan itu membuat Nadine sangat terpukul, aku
tak bisa apa-apa tanpa ibuku begitupun juga ayahnya.Ibunya meninggal karena
kecelakan 2 bulan yang lalu .
Sejak
ibunya meninggal Nadine dan ayahnya memutuskan untuk pindah dari rumah agar
mereka tak terpuruk terus menerus.Dan Nadine juga memutuskan pindah sekolah
karena ia merasa temannya tak mempedulikanya,seperti kemarin pada saat ibunya
meninggal, teman-teman Nadine tak ada satupun yang datang. Dan itu membuat
Nadine membenci mereka.Semenjak kematian ibu Nadine ,Nadine tak pernah pergi ke
sekolah dan langsung memilih pindah dari sekolahnya tanpa perpisahan dengan
temannya karena menurut Nadine itu tak penting .
Hari rabu
yang datang pun menyambut keberangkatan Nadine dan ayahnya untuk pindah rumah.
Rumah tersebut sangat jauh dari keramaian kota . nadine menuju ke sana dengan
mobil .Du sepanjang perjalan saat hampir sampai dengan rumah tersebut
pemandangan yang berada sekelilingnya di suguhkan dengan indah dan udaranya pun
masih sejuk.
Setelah
sampai di depan rumah tersebut. Dari luar rumah tersebut terlihat besar dan
bergaya klasik berwarna putih dan memiliki 2 penyangga besar yang berada di depannya.
“Nadine
kau masuklah saja dulu dan pilihlah kamarmu.Kamarmu berada di atas jadi
pilihlah sesuka hatimu.”
Nadine
yang mendengar ucapan ayahnya tersebut keluar dari mobil dengan membawa sebuah
senter. Melangkah dengan sepatunya. Udara di sana sangat dingin sehingga ia
harus memakai jaket dan celana panjang.Nadine yang memakai jaket hitam dengan
celana panjang jeans daan sepatunya.Nadine memiliki warna rambut yang sama
dengan ibunya yaitu rambutnya dan ibunya
menyukai rambut Nadine yang hanya sampai dengan bahu saja jadi apabila ia
memandangi rambutnya sendiri ia pasti teringat dengan ibunya.
Nadine
yang sekarang berada di depan rumah tersebut memberanikan diri untuk membukanya
karena menurut Nadine rumah itu agak sedikit menyeramkan. Dan akhirnya ia pun
membuka pintu rumah tersebut. Yang terlihat hanyalah ruang tamu yang gelap
dengan barang-barang yang sudah usang lalu Delvin melanjutkan langkahnya dengan
memasukinya ia berfikir terlalu besar untuk di tinggali Nadine dan ayahnya.
Setelah
Nadine telah mengamati semua ruangan yang ada di bawah mulai dari ruang makan ,
dapur ruang keluarga dan lain-lainnya. Selanjutnya ia melanjutkan ke atas atau
lantai 2dengan menggunakan tangga yang berada di ruang tengah Nadine pun
melangkahi anak tangga hingga sampai di lantai 2 yang terlihat di hadapannya
adalah sinar matahari yang menembus tebalnya awan hingga membuat sinar matahari
menyinari rumah tersebut Nadine pun segera menuju bagian luar rumah yang berada
di lantai 2 bagian luar tersebut di batasi oleh pagar yang tinggi nya hanya
setingggi pinggang Nadine dan dari situ Nadine dapat melihat Ayahnya dan para
pekerja yang melayani orang pindah rumah dengan memasukan barang-barang yang
tadi telah di angkut dengan mengunakan mobil pick up.
Nadine
yang telah melihat semuanya berbalik untuk mencari kamar di sebelah kiri dari
Nadine terdapat 2 pintu kamar dan di sebelahnya juga memilliki 2 pintu kamar
lalu pada saat itu juga Nadine mendapat perasaan bahwa ia harus memili pintu
kamar yang berada di kanan dan
mendatanginya , ia memilih pintu kamar kanan yang berada di sebelah kiri.
Sebenarnya pada saat Nadine mengeggam ganggang dari pintu kamar tersebut.
Dengan menarik nafasnya dan mengeluarkannya melewati mulut ia memberanikan diri
untuk membuka dan setelah membuka pintu tersebut , yang terlihat di depannya
adalah ruangan yang gelap jadi Nadine menyalakan senter yang tadi ia bawa
menyorotkannya ke ruangan tersebut dan setelah ia melihat- lihatnya ,tak lama ia
pun segera pergi dan menutup pintu tersebut. Lalu ia pun segera turun
menggunakan tangga yang sama.
“Bagaimana
dengan kamarmu apa kau sudah menemukannya.”
Tanya ayah
Nadine yang sedang mengangkat barang yang berada di depan .
“Iya sudah
tetapi kamar tersebut gelap.”
Jawab
Nadine dengan cemas . Karena ia tak menyukai kegelapan.
“Coba kau
cari saklar dari kamar tersebut, lampunya sudah di perbaiki begitu juga semua
lampu dan listik dari rumah ini jadi hanya tinggal membersihkan saja dan
meletakkan barang bagaiman dengan semestinya. Kalau begitukau ambil peralatan
untuk membersihkan kamarmu, karena mulai malam ini kau tidur di kamarmu. ”
Tukas ayah
Nadine.
“Lalu
bagaiman dengan ayah ??.”
Tanya
Nadine kepada Ayahnya.
“Oh itu
maaf Nadine ayah sebenarnya kemarin sudah kesini untuk memperbaiki listrik dan
lampu dari rumah ini dan jusa sekalian membersihkan kamar yang ayah pilih dan
kamar yang ayah pilih berada di sebelah kiri.”
“Baiklah,aku
akan membersihkan kamarku dan ayah apa yang akan kau lakukan??.”
Dengan
segera Nadine pun bergegas menuju kamar yang sudah ia pilih tadi. Dan beberapa
jam kemudian kamar yang tadinya usang sekarang menjadi lebih baik.Dan bila
dilihat dengan baik-baikc kamar tersebut juga merupakan kamar yang
indah.Memiliki dinding yang berwarna ungu gelap tetapi itu adalah warna
kesukaan Nadine juga. Meja Rias yang sangat unik dengan ukiran-ukiran yang
meliuk-liuk mengitari dari kaki meja tersebut sampai kaca dari meja rias.
Nadine
yang sudah menyelesaikan pekerjaanya keluar untuk menemui ayahnya tetapi pada
saat Nadine akan menemui ayahnya yang berada si lantai bawah, ia melihatnya
sedang sibuk membereskan barang-barang dan menempatkan barag-barang tersebut di
temapat yang semestinya.
Lalu
Nadine berfikir untuk membantu ayahnya dengan membersihkan semua ruangan yang
berada di lantai dua dan dengan begitulah Nadine membantu meringankan beban
ayahnya.
Tak terasa
malam hari pun datang dan ayah dari Nadine pun mencoba menaiki tangga yang
berada di ruangan tengah. Dan ayah Nadine pun terkejut karena semua ruangan di
lantai dua rumah tersebut. Dengan segera ia mencari Nadine ke semua ruangan dan
ternyata Nadine berada di kamar ayahnya untuk melihat-lihat saja.
“Nadine
apa yang kau lakukan di sini??.”
Tanya
ayahnya.
“Ehmm..
tidak haya melihat-lihat kamar ayah.”
Jawab
Nadine dengan ramah. Sambil duduk di ranjang ayahnya.
“Kalau
begitu marilah kita turun dan makan setelah itu kau boleh tidur.”
Ayah
Nadine mempin mereka untuk menuju ke bawah untuk makan.Setelah Nadine makan, ia
pun memutuskan untuk segera tidur dan akhirnya keanehan pun terjadi.
Setelah
sampai di depan pintu kamar Nadine pun membuka pintu dengan tangannya,setelah
masuk ia menutupnya dan setelah ia berbalik arah ia melihat seorang wanita
duduk di ranjang kamarnya menghadap ke arah dan ia memandang sinar bulan.
Dengan sedikit terkejut dan takut Nadine pun menciba berbicara dengannya.
“Siapa
kau?? Apa yang kau lakukan di sini ?? Ini adalah rumahku.”
Gadis itu
pun menoleh ke hadapan pintu yang telah di halangi Nadiine, Nadine pun merasa
agak sedikit ketakutan,melihatnya dan ia yakin bahwa gadis itu adalah hantu
karena setelah Nadiine melihatnya menolehkan mukanya ke arah Nadine gadis itu
dalam sekejap pun hilang entah kemana bagaikan ia hilang di bawa angin yang
melahapnya.
Nadine pun
terkejut ia pun langsung menyalakan saklar lampu di kamarnya lalu Nadine menari
nafas dan menghembuskannya di mulutnya,lalu berjalan menuju rangjangnya, setelah
ia sampai di tepi ranjangnya Nadine pun melepas sepatunya dan hanya duduk saja
di tengah ranjangnya untuk mengingat kejadian tadi. Wajah dari gadis itu tak
terlihat yang terlihat adalah ia menoleh dengan kaku ketika Nadine menanyainya
dan tak lama kemudian.
“Kau bisa
melihatku??”
Tanya
gadis tersebut yang secara mengejutkan muncul di hadapan Nadine yang jaraknya
mungkin hanya sejengkal jari dari mukanya, jari dengan spontanitas Nadine pun
menjerit.
“Arrrrgghhhh......!!!!!.”
“Tolong-tolong janganlah kau menjerit ketika
kau melihatku aku tak akn menyakitimu, aku hanya ingin meminta bantuanmu saja
Nadine.
Mendengarnya
Nadine pun segera menghentikan jeritannya, dan ia mendengar langkah kaki
ayahnya yang berjalan begitu cepat lalu ayahnya mebuka pintu kamar dari Nadine
dengan tergesa-gesa dan bertanya.
“Nadine
ada apa?? Mengapa kau menjerit.”
Nadine
melihat kode dari gadis itu yaitu dia memohon untuk di adukan ke ayahnya.Dengan
segera memberanikan diri Nadine pun berkata ke ayahnya.
“Tak apa
ayah aku hanya frustasi saja. Maaf bila hal tersebut mengganggu ayah.”
“Apa kau
yakin tak ada yang lain ??.”
Tanya ayah
Nadine.
“Iya tak
ada masalah.”
Lalu
dengan segera ayah Nadine pun menutup pintu yang ia buka tadi. Lalu akhirnya
mata Nadine mengarah ke mata gadis itu dan bertanya.
“Apa yang
kau inginkan dariku??.”
“Aku hanya
ingin meminta tolong kepadamu.Hanya itu saja.”
Dengan
tangan memohon dengan tulus gadis itu pun mengucapkan .
“Meminta
tolong apa??.”
Tanya
Nadine dengan dingin.
“Kalau begitu aku akan mengenalkan diriku dulu.”
Dengan
angukan Nadine pun mengiyakannya.
“Namaku
adalah Nouri hiden garth dan aku adalah gadis Belanda.”
Pantas
saja ia cantik dengan gaun putih yang menjuntai ke bawah serta rambut yang
sebahu dan wajahnya pun bisa di katakan cantik.Lalu gadis itu pun melanjutkan
lagi pembicaraannya.
“Aku
meninggal pada saat umur 16 tahun , aku meninggal di rumah ini.Pada saat itu
orang tua ku mengadakan pesta untuk kakakku yang akan bertunangan. Pesta
tersebut meriah sekali sehingga pada saat itu aku tak berhenti untuk senang.
Lalu tiba-tiba lampu di seluruh rumah pun mati dan aku mendengar semuanya
menjerit kesakitan dan aku tak tau apa itu??. Jadi aku bertanya-tanya dalam
diriku.
Tetapi tak
lama setelah aku berfikr diriku pun di tikam oleh sebilah pisau ,pisau tersebut
menikam langsung ke jantungku sehingga aku mati begitu saja dan seluruh isi
dari rumah ini, ayah, ibuku, kakakku dan yang lainya. Tetapi yang paling tragis
yaitu kakakku ia di bantai oleh kekasihnya sendiri karena kekasihnya tak ingin
menikah dengan kakakku dan aku tak tau mengapa itu bisa terjadi.
Aku sudah
keluar dari ragaku ketika aku melihat pembataian dari kakakku dan aku tak bisa
melakukan apa-apa lagi karena aku sudah mati.”
Dan
sekarang gadis itu mulai menitihkan mata dan Nadine juga turut ikut sedih
mendengarnya dan pembicraan pun masih di lanjutkan oleh Hiden.
“ Setelah
mereka semua mati akhirnya roh mereka semua pergi dari dunia ini tetapi aku tak
tau apa alasannya mengapa, aku tak bisa pergi ke alam baka. Tetapi semua orang bilang
bahwa ada sesuatu yang menahanku di sini. Selama bertahun- tahun aku mencari
jawabannya tetapi aku tak mengetahuinya, jadi maukah kau membantuku. “
Tanya Hide
kepada Nadine.
“Oke
baiklah, tetapi tunggu dulu mengapa aku bisa melihatmu dan ayahku tidak.??
Tanya
Nadine dengan penuh keheranan.
“Tidak,tidak
ia bisa melihatku coba berfikirlah mengapa ia bertanya “apa kau yakin.”Coba
pikirkanlah.”
Lalu
Nadine berfikir dengan baik-baik. Benar juga perkataannya.
“Tapi maaf
aku tak bisa membantumu sekarang karena aku ingin tidur.”
Dengan
senyuman yang ramah Hiden pun mengharhagainya.
“Baiklah
kalau begitu aku akakn menjagamu sepanjang malam ketika kau tidur dan semoga
bermimpi indah.”
Lalu Hiden
pun juga membantu Nadine untuk tidur.
Hari
berikutnya pun datang dengan sinar pagi yang memberikan secercah cahaya untuk
menyinari rumah tersebut. Setelah Nadine bangun dari tidurnya dan bergegas
turun dan membasuh diri lalu berganti pakaiannya.
Setelah
berganti pakaian ayah Nadine pun bertanya padanya.
“Apa kau
yakin di pagi ini kau tak ingin mengenal tempat ini?? Mungkin kau akan
menyesal.”
Setelah
berfikir akhirnya Nadine pun keluar untuk berjalan-jalan karena ini hari
pertamanya. Sebelum pergi ada ayah Nadine telah menjadwalkan bahwa hari senin
ia akan memasuki sekolahnya yang baru.
Lalu
Nadine keluar dari rumah tersebut melalui pintu depan yang terbuka. Nadine tak
tau betapa indahnya pemandangan dari rumah yang di milikinya, udaranya yang
sejuk, dari perkotaan dan antara rumah- rumah lain pun sangat jauh. Nadine pun mencoba
menarik nafas dan memangil naMA Hides di dalam hatinya lalu menghembuska
nafasnya melalui mulutnya karena itu adalah cara memangilnya.
Tak lama
Hides pun sudah berada di sebelah kanan Nadine.Lalu Nadine pun membuka
percakapan.
“Ibuku
meninggal akibat kecelakan 2 bulan yang lalu jadi itu lah alasan Ayahku dan aku
tinggal di sini. Apakah kau merasa terusik dengan kehadiranku di sini. “
Tanya
Nadine.
“Justru
tidak, tidak sama sekali. Malahan aku senag memiliki teman yang bisa diajak
bicara.”
Mereka yang
baru saja tadi malam bertemu kini sudah menjadi teman dekat. Mereka tertawa
bersama, merasakan bagaiman perihnya hidup dan lain-lain. Dan itu membuat
Nadine dan Hiden menjadi lupa akan kesedian dan perbedaan mereka. Mungkin
mereka bisa saja menjadi sahabat sejati.
Pada saat
mereka berjalan melewati rumah tua mereka melihat seorang kakek yang sudah
sangat tua yang duduk di kursi goyangnya dan hanya berdiam diri menatap langit .Mungkin
ia sudah berumur hampir 90-an. Lalu Nadine bertanya kepada Hiden yang beradda
di samping kanannya.
“Siapa dia
mengapa ia seperti sedih sekali Hides.??”
“Entahlah,
tetapi aku taka tau siapa?? Karena selama ini aku tak pernah keluar.”
Jawab
Hides dengan keheranan dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri”Siapakah dia??.”
Setelah lama
merekaberjalan-jalan akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Pada
saat Nadine dan Hides sampai di rumahnya, ayahnya yang sedang menonton tv di ruang tv , lihat sebenarnya Nadine dan Hides berjalan.
“Sudahlah
ayah, aku sudah tau dari Hides kalau kau bisa melihatnya. Sudahlah mengaku
sajalah.”
Nadine
berbicara dengan berjalan mengarah ke sofa yang di duduki ayahnya. Lalu Hides
berkata.
“Maaf aku
mengganggu kalian tetapi aku ingin bertanya pada anda, apakah aku bisa
memanggil anda dengan sebutan ayah. “
Langsung
saja ayah Nadine mengangguk sebagai pertanda bahwa ia mengiyakan. Lalu dengan
cepat Nadine berdiri dan tersenyum senang hides dan begitu pun juga sebaliknya.
Lalu
mereka bergegas pergi ke kamar Nadine. Pada saat Nadine mencapai tangga sebelum
ia melangkahkan kaki ke anak tangga tersebut Nadine kembali ke ayahnya sebentar
yang berada di sofanya lalu mengucapkan terima kasih dan memeluk ayahnya
sebagai rasa terima kasih dan pergi menyusul Hides.
Dari
kejauhan terlihat dari senyuman ayah Nadine bahwa Nadine sudah menemukan
keceriaanya tetapi ayah Nadine khawatir apabila Hides meninggalkan Nadine
,Nadine tak akan kembali menemukan keceriannya.
Mereka
bersenang-senang seperti 2 orang manusia yang bersahabat, seperti membuat gaduh
, menyanyi dan hal-hal yang menurut mereka menyenangkan, tetapi meski ayah dari
Nnadine merasa terusik tetapi ia merasa senang karena Hides membuat senyuman
Nadine yang telah hilang kembali, seperti tak terjadi apa-apa. Dan pesan
terakhir dari Ibu Nadine untuk ayahnya adalah dengan menjaga Nadine dan
membuatnya tetap tersenyum.
Malam hari
yang dingin pun akhirnya datang menyelimuti rumah tersebut. Nadine yang merasa
kedinginan akhirnya tueun dengan Hides untuk makan malam.Selama makan malam
mereka tak henti-hentinya bercanda dan tertawa, meski ayah Nadine tak nyaman
dengan keadaan itu tetapi kesenangannya melihat Nadine tertawa telah
mengalahkan rasa tak nyamannya.
“Maaf
nona-nona,tetapi kita harus makan
terlebih dahulu jadi setelah makan kalian bisa bercanda lagi.”
“Baiklah
ayah.”
Dan mereka
diam ,Hides hanya menunggu Nadine dan ayahnya. Setelah mekan malam usai ayah
Nadine bertanya tentang Hides bagaiman Hides bisa meninggal, bisa tertahan di
dunia ini dan sampai membantu mencarikan solusi untuk Hides.
“Apakah ada
orang atau keluargamu yang lain ataukah temanmu atau yang lain.Mungkin mereka
yang tidak mengiklaskanmu atau kau membuat janji tersendiri yang bisa membuatmu
tertahan di dunia ini.??”
“Tapi
semua keluarga besarku meninggal di rumah ini denganku.”
Senggal
Hides.
“Coba kau
ingat-ingat lagi.”
Sambungnya
sambil berfikir-fikir.
Seiring
waktu berjalan malam terrsebut semakin larut.nadine dan Hides memutuskan untuk
naik kemar Nadine. Sebelum mereka menaki tangga, terdengar suara terikan ayah
Nadine.
“Nad besok
senin kau akan masuk sekolah baru mu dan jangan sampai kau terlambat.”
“Baiklah
ayah.”
Kesokan
harinya setelah Nadine menghabiskan makan paginya, Hides mengajaknya ke
perpustakaan rumahnya yang tersembunyi, ruangan tersebut adalah ruangan yang
paling Hides sukai dan sekaran Nadine pun menyukainya. Mereka lebih sering
menghabiskan waktu di perpustakaan .
Sampai
pada saat hari minggu pagi Nadine menemukan buku diary dari Hides yang selama
ini Hides cari,setelah Nadine memangil Hides untuk membaca bersama-sama setiap
halaman.pada buku diary tersebut tiba di halaman tengah, sebuah foto hitam
putih pun mucul di buku tersebut, foto
itu tergambar seorang wanita yang duduk menghadap ke barat dan seorang
laki-laki yang berdiri di belakangnya dan menghadap arah yang sama memakai
setelan jas klasik yang lengkap.
“Bukankah
ini kamu Hides?? Tetapi siapa seorang pria yang berada di belakangmu??.”
Tanya
Nadine.
“Dia
adalah sahabatku French sam dough, tetapi kami bertengkar dan tak pernah
berbaikan sampai sekarang, karena kami bertengkar tepat di mana kami bertengkar
dan aku tak melihatnya hadi di pemakamanku.”
Ujar
Hides. Bersamaan dengan air mata yang jatuh di pipinya karena ia
mengingat-ingatnya bagaimana mereka bersama.
Lalu
Nadine ingat sesuatu yang di katakan. Ayahnya. “Kakek yang tinggal di rumah
ujung sana adalah kakek French ia hanya seorang diri tinggal di rumah tersebut
dan ia tak memiliki keluarga.”
“Tunggu
dulu “
Kata
Nadine.
Nadine
langsung bergegas membawa diary yang di bawanya dan keluar dari rumah .Lalu langsung
pergi ke rumah kakek french.
Kakek
French hanya duduk di kursi goyangnya diam dan menatap langit tak
henti-hentinya.Hides yang bisa menyusul Nadine pun marah-marah.
“Kau ini
kenapa ??ada apa?? Kenapa bawa-bawa diary ku juga.??”
Tanpa
menghiraukan Hides yang berada di
sampingnya Nadine pun bertanya.
“Kek,kakek
french kau bisa mendengarku .??”
Kakek
French tak menderngarkan Nadine sama sekali dan ia pun melanjutkan
percakapannya.
“Kakek aku
serahkan ini pada kakek buku diary ini .”
Lalu
Nadine maju untuk memberikan buku tersebut ke
pangkuan kakek French .
Lalu kakek
French bertanya.
“Buku apa
ini ??”
Dengan
segera Nadine pun menjawabnya.
“Buku
diary dari Hides, kau adalah temannya bukan dan sahabatnya juga tetapi mengapa
kau tak peduli sama sekali padanya dan itu membuatnya kecewa karena kau tak
mendatangi pemakamannya. Dan kau juga yang membuatnya tertahan di dunia ini
sehingga dia tak bisa naik ke alam baka.”
Hides yang
mendengar dan elihat hal tersebut shock dan menutup mulutnya dengan kedua
tangannya.
“Iya aku
yang bersalah aku bertengkar dengannya, tak segera meminta maaf dan aku
terlambat mendatangi pemakamannya. Aku bersumpah pada diriku bila Hides tak
memaafkanku aku tak akan meninggal dengan tenang dan itu sumpahku. Tetapi
tunggu dulu dari mana kau mengetahuinya??.”
Tanya
kakek French dengan.
“Aku
berteman dengannya dan aku juga bisa melihatnya, dia ada di sampingku sekarang
ini.”
kakek
french yang tadinya hanya duduk di kursinya dengan lesu sekarang ini mulai
berbicara .
“bisakah
aku berkomunikasi kepadanya melalui mu??.”
“Tapi
bagaimana caranya ??.”
Tanya
Nadine dengan heran.
“Aku
berbicara padanya dan dia berbicara melaluimu .”
“Baiklah.”
Sahut
Nadine.
“Hides
bisakah kau memaafkanku dan memaafkan kesalahanku, kau tahu aku hidup tanpamu
seperti aku hidup tanpa tubuh.Sebenarnya aku ingin kita tidak hanya sekedar
teman saja, aku ingin kau lebih dari itu, bisakah kau mengajakku pergi
meninggalkan dirimu untuk bersamamu di alam baka, dan mungkin hanya itu caranya
kau bisa pergi ke alam baka, denganku dan bersamaku.”
Hides pun
merintih mendengarkannya dan akhirnya ia menangis.
“Iya aku
memaafkanmu aku ingin pergi ke alam baka denganmu selamanya dan kau tau aku
memiliki perasaan yang sama denganmu .”
Lalu
kata-kata yang di ucapkan oleh Hides langsung di ucapkan kepada kakek
French.Kakek French yang mendengarnya langsung tersenyum dan menutup matanya
dengan senyuman.
Tiba-tiba
sebuah awan putih menyerupai tangga turun dari atas langit berwarva putih. Lalu
Hides yang tadi berada samping Nadine kini sudah berada di depan kakek French.
Tiba-tiba
roh dari kakek French keluar dari tubuhnya dengan umur yang sama dengan Hides,
lalu mereka pergi untuk menaiki tangga tersebut dan mereka akan meninggalkan
Nadine, tetapi sebelum Hides meninggalkan Nadine untuk selamnya.Hides pun
mendatangi Nadine dan memeluknya, lalu berpesan.
“Nadine
berjanjilah padaku kau akan selalu tersenyum seperti ini dan selalu ceria walau
tanpa aku dan berjanjilah padaku untuk bersekolah dengan rajin dan mendapat
teman yang banyak.”
Hides
mengucapkannya dengan sedih tetapi ia senang bisa pergi ke alam baka dengan
orang yang ia sayangi. Hides pun menangis saat ia berpisah dengan Nadine dan
Nadine pun meneteskan air matanya dengan tersenyum . Dan pada akhirnya mereka
pergi ke alam baka.
Sebenarnya
ayah Nadine sudah mengetahui itu semua dan bangga kepada putrinya.Pada akhirnya
jenazah kakek French di makamkan di samping dari makam Hides. Nadine meras
mereka akan bahagia dan begitu pula dengan ibunya.
Pada saat
pertama kali Nadine masuk ke sekolah barunya banyak siswa yang berteman
dengannya dan di sana ia juga dikenal sebagai Nadine yang ramah dan baik hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar