Sabtu, 24 Januari 2015

Cerpen - SOUL LEFT BEHIND

SOUL LEFT BEHIND

Kadang Nadine merasa tuhan tak adil kepadanya. Karena tuhan telah mengambil orang yang Nadine  sayangi yaitu ibunya sendiri . Ibunya meninggal akibat kecelakaan dan itu membuat Nadine sangat terpukul, aku tak bisa apa-apa tanpa ibuku begitupun juga ayahnya.Ibunya meninggal karena kecelakan 2 bulan yang lalu .
Sejak ibunya meninggal Nadine dan ayahnya memutuskan untuk pindah dari rumah agar mereka tak terpuruk terus menerus.Dan Nadine juga memutuskan pindah sekolah karena ia merasa temannya tak mempedulikanya,seperti kemarin pada saat ibunya meninggal, teman-teman Nadine tak ada satupun yang datang. Dan itu membuat Nadine membenci mereka.Semenjak kematian ibu Nadine ,Nadine tak pernah pergi ke sekolah dan langsung memilih pindah dari sekolahnya tanpa perpisahan dengan temannya karena menurut Nadine itu tak penting .
Hari rabu yang datang pun menyambut keberangkatan Nadine dan ayahnya untuk pindah rumah. Rumah tersebut sangat jauh dari keramaian kota . nadine menuju ke sana dengan mobil .Du sepanjang perjalan saat hampir sampai dengan rumah tersebut pemandangan yang berada sekelilingnya di suguhkan dengan indah dan udaranya pun masih sejuk.
Setelah sampai di depan rumah tersebut. Dari luar rumah tersebut terlihat besar dan bergaya klasik berwarna putih dan memiliki 2 penyangga besar yang  berada di depannya.
“Nadine kau masuklah saja dulu dan pilihlah kamarmu.Kamarmu berada di atas jadi pilihlah sesuka hatimu.”
Nadine yang mendengar ucapan ayahnya tersebut keluar dari mobil dengan membawa sebuah senter. Melangkah dengan sepatunya. Udara di sana sangat dingin sehingga ia harus memakai jaket dan celana panjang.Nadine yang memakai jaket hitam dengan celana panjang jeans daan sepatunya.Nadine memiliki warna rambut yang sama dengan ibunya yaitu rambutnya  dan ibunya menyukai rambut Nadine yang hanya sampai dengan bahu saja jadi apabila ia memandangi rambutnya sendiri ia pasti teringat dengan ibunya.
Nadine yang sekarang berada di depan rumah tersebut memberanikan diri untuk membukanya karena menurut Nadine rumah itu agak sedikit menyeramkan. Dan akhirnya ia pun membuka pintu rumah tersebut. Yang terlihat hanyalah ruang tamu yang gelap dengan barang-barang yang sudah usang lalu Delvin melanjutkan langkahnya dengan memasukinya ia berfikir terlalu besar untuk di tinggali Nadine dan ayahnya.
Setelah Nadine telah mengamati semua ruangan yang ada di bawah mulai dari ruang makan , dapur ruang keluarga dan lain-lainnya. Selanjutnya ia melanjutkan ke atas atau lantai 2dengan menggunakan tangga yang berada di ruang tengah Nadine pun melangkahi anak tangga hingga sampai di lantai 2 yang terlihat di hadapannya adalah sinar matahari yang menembus tebalnya awan hingga membuat sinar matahari menyinari rumah tersebut Nadine pun segera menuju bagian luar rumah yang berada di lantai 2 bagian luar tersebut di batasi oleh pagar yang tinggi nya hanya setingggi pinggang Nadine dan dari situ Nadine dapat melihat Ayahnya dan para pekerja yang melayani orang pindah rumah dengan memasukan barang-barang yang tadi telah di angkut dengan mengunakan mobil pick up.
Nadine yang telah melihat semuanya berbalik untuk mencari kamar di sebelah kiri dari Nadine terdapat 2 pintu kamar dan di sebelahnya juga memilliki 2 pintu kamar lalu pada saat itu juga Nadine mendapat perasaan bahwa ia harus memili pintu kamar  yang berada di kanan dan mendatanginya , ia memilih pintu kamar kanan yang berada di sebelah kiri. Sebenarnya pada saat Nadine mengeggam ganggang dari pintu kamar tersebut. Dengan menarik nafasnya dan mengeluarkannya melewati mulut ia memberanikan diri untuk membuka dan setelah membuka pintu tersebut , yang terlihat di depannya adalah ruangan yang gelap jadi Nadine menyalakan senter yang tadi ia bawa menyorotkannya ke ruangan tersebut dan setelah ia melihat- lihatnya ,tak lama ia pun segera pergi dan menutup pintu tersebut. Lalu ia pun segera turun menggunakan tangga yang sama.
“Bagaimana dengan kamarmu apa kau sudah menemukannya.”
Tanya ayah Nadine yang sedang mengangkat barang yang berada di depan .
“Iya sudah tetapi kamar tersebut gelap.”
Jawab Nadine dengan cemas . Karena ia tak menyukai kegelapan.
“Coba kau cari saklar dari kamar tersebut, lampunya sudah di perbaiki begitu juga semua lampu dan listik dari rumah ini jadi hanya tinggal membersihkan saja dan meletakkan barang bagaiman dengan semestinya. Kalau begitukau ambil peralatan untuk membersihkan kamarmu, karena mulai malam ini kau tidur di kamarmu. ”
Tukas ayah Nadine.
  “Lalu bagaiman dengan ayah ??.”
Tanya Nadine kepada Ayahnya.
“Oh itu maaf Nadine ayah sebenarnya kemarin sudah kesini untuk memperbaiki listrik dan lampu dari rumah ini dan jusa sekalian membersihkan kamar yang ayah pilih dan kamar yang ayah pilih berada di sebelah kiri.”
“Baiklah,aku akan membersihkan kamarku dan ayah apa yang akan kau lakukan??.”
Dengan segera Nadine pun bergegas menuju kamar yang sudah ia pilih tadi. Dan beberapa jam kemudian kamar yang tadinya usang sekarang menjadi lebih baik.Dan bila dilihat dengan baik-baikc kamar tersebut juga merupakan kamar yang indah.Memiliki dinding yang berwarna ungu gelap tetapi itu adalah warna kesukaan Nadine juga. Meja Rias yang sangat unik dengan ukiran-ukiran yang meliuk-liuk mengitari dari kaki meja tersebut sampai  kaca dari meja rias.
Nadine yang sudah menyelesaikan pekerjaanya keluar untuk menemui ayahnya tetapi pada saat Nadine akan menemui ayahnya yang berada si lantai bawah, ia melihatnya sedang sibuk membereskan barang-barang dan menempatkan barag-barang tersebut di temapat yang semestinya.
Lalu Nadine berfikir untuk membantu ayahnya dengan membersihkan semua ruangan yang berada di lantai dua dan dengan begitulah Nadine membantu meringankan beban ayahnya.
Tak terasa malam hari pun datang dan ayah dari Nadine pun mencoba menaiki tangga yang berada di ruangan tengah. Dan ayah Nadine pun terkejut karena semua ruangan di lantai dua rumah tersebut. Dengan segera ia mencari Nadine ke semua ruangan dan ternyata Nadine berada di kamar ayahnya untuk melihat-lihat saja.
“Nadine apa yang kau lakukan di sini??.” 
Tanya ayahnya.
“Ehmm.. tidak haya melihat-lihat kamar ayah.”
Jawab Nadine dengan ramah. Sambil duduk di ranjang ayahnya.
“Kalau begitu marilah kita turun dan makan setelah itu kau boleh tidur.”
Ayah Nadine mempin mereka untuk menuju ke bawah untuk makan.Setelah Nadine makan, ia pun memutuskan untuk segera tidur dan akhirnya keanehan pun terjadi.
Setelah sampai di depan pintu kamar Nadine pun membuka pintu dengan tangannya,setelah masuk ia menutupnya dan setelah ia berbalik arah ia melihat seorang wanita duduk di ranjang kamarnya menghadap ke arah dan ia memandang sinar bulan. Dengan sedikit terkejut dan takut Nadine pun menciba berbicara dengannya.
“Siapa kau?? Apa yang kau lakukan di sini ?? Ini adalah rumahku.”
Gadis itu pun menoleh ke hadapan pintu yang telah di halangi Nadiine, Nadine pun merasa agak sedikit ketakutan,melihatnya dan ia yakin bahwa gadis itu adalah hantu karena setelah Nadiine melihatnya menolehkan mukanya ke arah Nadine gadis itu dalam sekejap pun hilang entah kemana bagaikan ia hilang di bawa angin yang melahapnya.
Nadine pun terkejut ia pun langsung menyalakan saklar lampu di kamarnya lalu Nadine menari nafas dan menghembuskannya di mulutnya,lalu berjalan menuju rangjangnya, setelah ia sampai di tepi ranjangnya Nadine pun melepas sepatunya dan hanya duduk saja di tengah ranjangnya untuk mengingat kejadian tadi. Wajah dari gadis itu tak terlihat yang terlihat adalah ia menoleh dengan kaku ketika Nadine menanyainya dan tak lama kemudian.
“Kau bisa melihatku??” 
Tanya gadis tersebut yang secara mengejutkan muncul di hadapan Nadine yang jaraknya mungkin hanya sejengkal jari dari mukanya, jari dengan spontanitas Nadine pun menjerit.
“Arrrrgghhhh......!!!!!.”
 “Tolong-tolong janganlah kau menjerit ketika kau melihatku aku tak akn menyakitimu, aku hanya ingin meminta bantuanmu saja Nadine.
Mendengarnya Nadine pun segera menghentikan jeritannya, dan ia mendengar langkah kaki ayahnya yang berjalan begitu cepat lalu ayahnya mebuka pintu kamar dari Nadine dengan tergesa-gesa dan bertanya.
“Nadine ada apa?? Mengapa kau menjerit.”
Nadine melihat kode dari gadis itu yaitu dia memohon untuk di adukan ke ayahnya.Dengan segera memberanikan diri Nadine pun berkata ke ayahnya.
“Tak apa ayah aku hanya frustasi saja. Maaf bila hal tersebut mengganggu ayah.”
“Apa kau yakin tak ada yang lain ??.”
Tanya ayah Nadine.
“Iya tak ada masalah.”
Lalu dengan segera ayah Nadine pun menutup pintu yang ia buka tadi. Lalu akhirnya mata Nadine mengarah ke mata gadis itu dan bertanya.
“Apa yang kau inginkan dariku??.”
“Aku hanya ingin meminta tolong kepadamu.Hanya itu saja.”
Dengan tangan memohon dengan tulus gadis itu pun mengucapkan .
“Meminta tolong apa??.”
Tanya Nadine dengan dingin.
“Kalau  begitu aku akan mengenalkan diriku dulu.”
Dengan angukan Nadine pun mengiyakannya.
“Namaku adalah Nouri hiden garth dan aku adalah gadis Belanda.”
Pantas saja ia cantik dengan gaun putih yang menjuntai ke bawah serta rambut yang sebahu dan wajahnya pun bisa di katakan cantik.Lalu gadis itu pun melanjutkan lagi pembicaraannya.
“Aku meninggal pada saat umur 16 tahun , aku meninggal di rumah ini.Pada saat itu orang tua ku mengadakan pesta untuk kakakku yang akan bertunangan. Pesta tersebut meriah sekali sehingga pada saat itu aku tak berhenti untuk senang. Lalu tiba-tiba lampu di seluruh rumah pun mati dan aku mendengar semuanya menjerit kesakitan dan aku tak tau apa itu??. Jadi aku bertanya-tanya dalam diriku.
Tetapi tak lama setelah aku berfikr diriku pun di tikam oleh sebilah pisau ,pisau tersebut menikam langsung ke jantungku sehingga aku mati begitu saja dan seluruh isi dari rumah ini, ayah, ibuku, kakakku dan yang lainya. Tetapi yang paling tragis yaitu kakakku ia di bantai oleh kekasihnya sendiri karena kekasihnya tak ingin menikah dengan kakakku dan aku tak tau mengapa itu bisa terjadi.
Aku sudah keluar dari ragaku ketika aku melihat pembataian dari kakakku dan aku tak bisa melakukan apa-apa lagi karena aku sudah mati.”
Dan sekarang gadis itu mulai menitihkan mata dan Nadine juga turut ikut sedih mendengarnya dan pembicraan pun masih di lanjutkan oleh Hiden.
“ Setelah mereka semua mati akhirnya roh mereka semua pergi dari dunia ini tetapi aku tak tau apa alasannya mengapa, aku tak bisa pergi ke alam baka. Tetapi semua orang bilang bahwa ada sesuatu yang menahanku di sini. Selama bertahun- tahun aku mencari jawabannya tetapi aku tak mengetahuinya, jadi maukah kau membantuku. “
Tanya Hide kepada Nadine.
“Oke baiklah, tetapi tunggu dulu mengapa aku bisa melihatmu dan ayahku tidak.??
Tanya Nadine dengan penuh keheranan.
“Tidak,tidak ia bisa melihatku coba berfikirlah mengapa ia bertanya “apa kau yakin.”Coba pikirkanlah.”
Lalu Nadine berfikir dengan baik-baik. Benar juga perkataannya.
“Tapi maaf aku tak bisa membantumu sekarang karena aku ingin tidur.”
Dengan senyuman yang ramah Hiden pun mengharhagainya.
“Baiklah kalau begitu aku akakn menjagamu sepanjang malam ketika kau tidur dan semoga bermimpi indah.”
Lalu Hiden pun juga membantu Nadine untuk tidur.
Hari berikutnya pun datang dengan sinar pagi yang memberikan secercah cahaya untuk menyinari rumah tersebut. Setelah Nadine bangun dari tidurnya dan bergegas turun dan membasuh diri lalu berganti pakaiannya.
Setelah berganti pakaian ayah Nadine pun bertanya padanya.
“Apa kau yakin di pagi ini kau tak ingin mengenal tempat ini?? Mungkin kau akan menyesal.”
Setelah berfikir akhirnya Nadine pun keluar untuk berjalan-jalan karena ini hari pertamanya. Sebelum pergi ada ayah Nadine telah menjadwalkan bahwa hari senin ia akan memasuki sekolahnya yang baru.
Lalu Nadine keluar dari rumah tersebut melalui pintu depan yang terbuka. Nadine tak tau betapa indahnya pemandangan dari rumah yang di milikinya, udaranya yang sejuk, dari perkotaan dan antara rumah- rumah lain pun sangat jauh. Nadine pun mencoba menarik nafas dan memangil naMA Hides di dalam hatinya lalu menghembuska nafasnya melalui mulutnya karena itu adalah cara memangilnya.
Tak lama Hides pun sudah berada di sebelah kanan Nadine.Lalu Nadine pun membuka percakapan.
“Ibuku meninggal akibat kecelakan 2 bulan yang lalu jadi itu lah alasan Ayahku dan aku tinggal di sini. Apakah kau merasa terusik dengan kehadiranku di sini. “
Tanya Nadine.
“Justru tidak, tidak sama sekali. Malahan aku senag memiliki teman yang bisa diajak bicara.”
Mereka yang baru saja tadi malam bertemu kini sudah menjadi teman dekat. Mereka tertawa bersama, merasakan bagaiman perihnya hidup dan lain-lain. Dan itu membuat Nadine dan Hiden menjadi lupa akan kesedian dan perbedaan mereka. Mungkin mereka bisa saja menjadi sahabat sejati.
Pada saat mereka berjalan melewati rumah tua mereka melihat seorang kakek yang sudah sangat tua yang duduk di kursi goyangnya dan hanya berdiam diri menatap langit .Mungkin ia sudah berumur hampir 90-an. Lalu Nadine bertanya kepada Hiden yang beradda di samping kanannya.
“Siapa dia mengapa ia seperti sedih sekali Hides.??”
“Entahlah, tetapi aku taka tau siapa?? Karena selama ini aku tak pernah keluar.”
Jawab Hides dengan keheranan dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri”Siapakah dia??.”
Setelah lama merekaberjalan-jalan akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Pada saat Nadine dan Hides sampai di rumahnya, ayahnya yang sedang menonton tv  di ruang tv , lihat  sebenarnya Nadine dan Hides berjalan.
“Sudahlah ayah, aku sudah tau dari Hides kalau kau bisa melihatnya. Sudahlah mengaku sajalah.”
Nadine berbicara dengan berjalan mengarah ke sofa yang di duduki ayahnya. Lalu Hides berkata.
“Maaf aku mengganggu kalian tetapi aku ingin bertanya pada anda, apakah aku bisa memanggil anda dengan sebutan ayah. “
Langsung saja ayah Nadine mengangguk sebagai pertanda bahwa ia mengiyakan. Lalu dengan cepat Nadine berdiri dan tersenyum senang hides dan begitu pun juga sebaliknya.
Lalu mereka bergegas pergi ke kamar Nadine. Pada saat Nadine mencapai tangga sebelum ia melangkahkan kaki ke anak tangga tersebut Nadine kembali ke ayahnya sebentar yang berada di sofanya lalu mengucapkan terima kasih dan memeluk ayahnya sebagai rasa terima kasih dan pergi menyusul Hides.
Dari kejauhan terlihat dari senyuman ayah Nadine bahwa Nadine sudah menemukan keceriaanya tetapi ayah Nadine khawatir apabila Hides meninggalkan Nadine ,Nadine tak akan kembali menemukan keceriannya.
Mereka bersenang-senang seperti 2 orang manusia yang bersahabat, seperti membuat gaduh , menyanyi dan hal-hal yang menurut mereka menyenangkan, tetapi meski ayah dari Nnadine merasa terusik tetapi ia merasa senang karena Hides membuat senyuman Nadine yang telah hilang kembali, seperti tak terjadi apa-apa. Dan pesan terakhir dari Ibu Nadine untuk ayahnya adalah dengan menjaga Nadine dan membuatnya tetap tersenyum.
Malam hari yang dingin pun akhirnya datang menyelimuti rumah tersebut. Nadine yang merasa kedinginan akhirnya tueun dengan Hides untuk makan malam.Selama makan malam mereka tak henti-hentinya bercanda dan tertawa, meski ayah Nadine tak nyaman dengan keadaan itu tetapi kesenangannya melihat Nadine tertawa telah mengalahkan rasa tak nyamannya.
“Maaf nona-nona,tetapi  kita harus makan terlebih dahulu jadi setelah makan kalian bisa bercanda lagi.”
“Baiklah ayah.”
Dan mereka diam ,Hides hanya menunggu Nadine dan ayahnya. Setelah mekan malam usai ayah Nadine bertanya tentang Hides bagaiman Hides bisa meninggal, bisa tertahan di dunia ini dan sampai membantu mencarikan solusi untuk Hides.
“Apakah ada orang atau keluargamu yang lain ataukah temanmu atau yang lain.Mungkin mereka yang tidak mengiklaskanmu atau kau membuat janji tersendiri yang bisa membuatmu tertahan di dunia ini.??”
“Tapi semua keluarga besarku meninggal di rumah ini denganku.”
Senggal Hides.
“Coba kau ingat-ingat lagi.”
Sambungnya sambil berfikir-fikir.
Seiring waktu berjalan malam terrsebut semakin larut.nadine dan Hides memutuskan untuk naik kemar Nadine. Sebelum mereka menaki tangga, terdengar suara terikan ayah Nadine.
“Nad besok senin kau akan masuk sekolah baru mu dan jangan sampai kau terlambat.”
“Baiklah ayah.”
Kesokan harinya setelah Nadine menghabiskan makan paginya, Hides mengajaknya ke perpustakaan rumahnya yang tersembunyi, ruangan tersebut adalah ruangan yang paling Hides sukai dan sekaran Nadine pun menyukainya. Mereka lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan .
Sampai pada saat hari minggu pagi Nadine menemukan buku diary dari Hides yang selama ini Hides cari,setelah Nadine memangil Hides untuk membaca bersama-sama setiap halaman.pada buku diary tersebut tiba di halaman tengah, sebuah foto hitam putih pun mucul di  buku tersebut, foto itu tergambar seorang wanita yang duduk menghadap ke barat dan seorang laki-laki yang berdiri di belakangnya dan menghadap arah yang sama memakai setelan jas klasik yang lengkap.
“Bukankah ini kamu Hides?? Tetapi siapa seorang pria yang berada di belakangmu??.”
Tanya Nadine.
“Dia adalah sahabatku French sam dough, tetapi kami bertengkar dan tak pernah berbaikan sampai sekarang, karena kami bertengkar tepat di mana kami bertengkar dan aku tak melihatnya hadi di pemakamanku.”
Ujar Hides. Bersamaan dengan air mata yang jatuh di pipinya karena ia mengingat-ingatnya bagaimana mereka bersama.
Lalu Nadine ingat sesuatu yang di katakan. Ayahnya. “Kakek yang tinggal di rumah ujung sana adalah kakek French ia hanya seorang diri tinggal di rumah tersebut dan ia tak memiliki keluarga.”
“Tunggu dulu “
Kata Nadine.
Nadine langsung bergegas membawa diary yang di bawanya dan keluar dari rumah .Lalu langsung pergi ke rumah kakek french.
Kakek French hanya duduk di kursi goyangnya diam dan menatap langit tak henti-hentinya.Hides yang bisa menyusul Nadine pun marah-marah.
“Kau ini kenapa ??ada apa?? Kenapa bawa-bawa diary ku juga.??”
Tanpa menghiraukan  Hides yang berada di sampingnya Nadine  pun bertanya.
“Kek,kakek french kau bisa mendengarku .??”
Kakek French tak menderngarkan Nadine sama sekali dan ia pun melanjutkan percakapannya.
“Kakek aku serahkan ini pada kakek buku diary ini .”
Lalu Nadine maju untuk memberikan buku tersebut ke  pangkuan kakek French .
Lalu kakek French bertanya.
“Buku apa ini ??”
Dengan segera Nadine pun menjawabnya.
“Buku diary dari Hides, kau adalah temannya bukan dan sahabatnya juga tetapi mengapa kau tak peduli sama sekali padanya dan itu membuatnya kecewa karena kau tak mendatangi pemakamannya. Dan kau juga yang membuatnya tertahan di dunia ini sehingga dia tak bisa naik ke alam baka.”
Hides yang mendengar dan elihat hal tersebut shock dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Iya aku yang bersalah aku bertengkar dengannya, tak segera meminta maaf dan aku terlambat mendatangi pemakamannya. Aku bersumpah pada diriku bila Hides tak memaafkanku aku tak akan meninggal dengan tenang dan itu sumpahku. Tetapi tunggu dulu dari mana kau mengetahuinya??.”
Tanya kakek French dengan.
“Aku berteman dengannya dan aku juga bisa melihatnya, dia ada di sampingku sekarang ini.”
kakek french yang tadinya hanya duduk di kursinya dengan lesu sekarang ini mulai berbicara .
“bisakah aku berkomunikasi kepadanya melalui mu??.”
“Tapi bagaimana caranya ??.”
Tanya Nadine dengan heran.
“Aku berbicara padanya dan dia berbicara melaluimu .”
“Baiklah.”
Sahut Nadine.
“Hides bisakah kau memaafkanku dan memaafkan kesalahanku, kau tahu aku hidup tanpamu seperti aku hidup tanpa tubuh.Sebenarnya aku ingin kita tidak hanya sekedar teman saja, aku ingin kau lebih dari itu, bisakah kau mengajakku pergi meninggalkan dirimu untuk bersamamu di alam baka, dan mungkin hanya itu caranya kau bisa pergi ke alam baka, denganku dan bersamaku.”
Hides pun merintih mendengarkannya dan akhirnya ia menangis.
“Iya aku memaafkanmu aku ingin pergi ke alam baka denganmu selamanya dan kau tau aku memiliki perasaan yang sama denganmu .”
Lalu kata-kata yang di ucapkan oleh Hides langsung di ucapkan kepada kakek French.Kakek French yang mendengarnya langsung tersenyum dan menutup matanya dengan senyuman.
Tiba-tiba sebuah awan putih menyerupai tangga turun dari atas langit berwarva putih. Lalu Hides yang tadi berada samping Nadine kini sudah berada di depan kakek French.
Tiba-tiba roh dari kakek French keluar dari tubuhnya dengan umur yang sama dengan Hides, lalu mereka pergi untuk menaiki tangga tersebut dan mereka akan meninggalkan Nadine, tetapi sebelum Hides meninggalkan Nadine untuk selamnya.Hides pun mendatangi Nadine dan memeluknya, lalu berpesan.
“Nadine berjanjilah padaku kau akan selalu tersenyum seperti ini dan selalu ceria walau tanpa aku dan berjanjilah padaku untuk bersekolah dengan rajin dan mendapat teman yang banyak.”
Hides mengucapkannya dengan sedih tetapi ia senang bisa pergi ke alam baka dengan orang yang ia sayangi. Hides pun menangis saat ia berpisah dengan Nadine dan Nadine pun meneteskan air matanya dengan tersenyum . Dan pada akhirnya mereka pergi ke alam baka.
Sebenarnya ayah Nadine sudah mengetahui itu semua dan bangga kepada putrinya.Pada akhirnya jenazah kakek French di makamkan di samping dari makam Hides. Nadine meras mereka akan bahagia dan begitu pula dengan ibunya.
Pada saat pertama kali Nadine masuk ke sekolah barunya banyak siswa yang berteman dengannya dan di sana ia juga dikenal sebagai Nadine yang ramah dan baik hati. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar